Senin, 10 September 2018

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala Puji bagi Allah SWT Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan artikel ini

Masalah yang akan kita bahas pada kali ini adalah masalah tentang bagaimana kita hubungan kita dengan sesama manusia atau sosial masyarakat.

Tidak salah jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat rinci mengatur kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah SWT memberikan petunjuk kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau pemeluk agama Islam yang kafah atau sempurna.

Secara garis besar ajaran Islam bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan manusia dengan manusia). Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang walaupun hablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua bukan berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain karena hablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh karena itu suatu anggapan yang salah jika Islam dianggap sebagai agama transedental.

Baik Ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sosial masyarakat yang akan kita bahas ada pada surat Ar-Rad ayat 11
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
Artinya:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.


A.    Menurut tafsir Jalalayn
(Baginya) manusia (ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran) para malaikat yang bertugas mengawasinya (di muka) di hadapannya (dan di belakangnya) dari belakangnya (mereka menjaganya atas perintah Allah) berdasarkan perintah Allah, dari gangguan jin dan makhluk-makhluk yang lainnya. (Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum) artinya Dia tidak mencabut dari mereka nikmat-Nya (sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri) dari keadaan yang baik dengan melakukan perbuatan durhaka. (Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum) yakni menimpakan azab (maka tak ada yang dapat menolaknya) dari siksaan-siksaan tersebut dan pula dari hal-hal lainnya yang telah dipastikan-Nya (dan sekali-kali tak ada bagi mereka) bagi orang-orang yang telah dikehendaki keburukan oleh Allah (selain Dia) selain Allah sendiri (seorang penolong pun) yang dapat mencegah datangnya azab Allah terhadap mereka. Huruf min di sini adalah zaidah.

B.     Menurut Tafsir Quraish Shihab
Sesungguhnya Allahlah yang memelihara kalian. Setiap manusia memiliki sejumlah malaikat yang bertugas--atas perintah Allah--menjaga dan memeliharanya. Mereka ada yang menjaga dari arah depan dan ada juga yang menjaga dari arah belakang. Demikian pula, Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa dari susah menjadi bahagia, atau dari kuat menjadi lemah, sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka sesuai dengan keadaan yang akan mereka jalani. Apabila Allah berkehendak memberikan bencana kepada suatu bangsa, tidak akan ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari bencana itu. Tidak ada seorang pun yang mengendalikan urusan kalian hingga dapat menolak bencana itu.

C.     Menurut Komentar Para Mufassir
(1)   Menurut As Samarqandiy, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah, bahwa Allah tidak akan merubah kenikmatan yang ada pada suatu kaum yang Allah berikan kepada mereka, sampai mereka merubah, yakni merubah diri mereka dengan meninggalkan sikap syukur[i].
Al Faqih Abul Laits rahimahullah berkata, “Dalam ayat tersebut terdapat peringatan kepada semua manusia agar mengenali nikmat yang Allah berikan kepada mereka dan mensyukurinya agar kenikmatan itu tidak hilang dari mereka.”
(2)    Menurut Abu Bakr Al Jaza’iri, maksud firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah Allah tidak merubah keadaan suatu kaum yang sebelumnya berada dalam afiyah (keselamatan) dan nikmat kepada musibah dan azab, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Ia juga berkata tentang maksud ayat di atas, “Allah Ta’ala memberitahukan tentang salah satu sunnah (ketetapan) di antara sunnah-sunnah-Nya terhadap makhluk-Nya yang terus berlaku, yaitu, bahwa Dia tidaklah menyingkirkan nikmat yang Dia karuniakan kepada suatu kaum, baik berupa keselamatan, keamanan, maupun kelapangan yang disebabkan keimanan dan amal saleh mereka sampai mereka merubah keadaan mereka yang sebelumnya bersih kemudian dikotori oleh dosa dan tenggelam di dalam maksiat akibat berpaling dari kitab Allah, meremehkan syariat-Nya, menolak batasan-Nya, tenggelam dalam syahwat, dan menempuh jalan-jalan kesesatan.”
(3)   Menurut Al Baghawi, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum yang berada dalam keselamatan dan kenikmatan, sampai mereka merubah keadaan diri mereka dari keadaan yang baik tersebut lalu berbuat maksiat kepada Tuhan mereka.
(4)   Menurut Ibnu ‘Athiyyah, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah memberitahukan, Dia tidaklah merubah keadaan suatu kaum dengan menimpakan azab dan musibah sampai terjadi tindak kemaksiatan dari mereka dan mereka merubah ketaatan yang diperintahkan (dengan kemaksiatan).

Jadi Setalah kita melihat beberapa tafsir diatas dapat dikatakan bahwa Ayat ini menerangkan tentang kedhaliman manusia. Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa tergantung pada sikap dan tingkah laku mereka sendiri. Kedzaliman dalam ayat ini sebagai tanda rusaknya kemakmuran suatu bangsa.

Memang benar adanya bahwasanya nasib suatu kemakmuran bangsa tidak dapat dirubah kecuali kita sendiri sebagai rakyat dan pemerintah bangsa kita bangsa Indonesia sebagai organisasi atau wadah yang mengurus peraturan-peraturan, masalah kenegaraan, dan kesejahteraan rakyat dan negara.

Dalam hal ini peran pemerintah sangat vital karena pemerintahlah yang mengatur semua aspek kenegaraan, merekalah yang bertaggung jawab atas kemakmuran bangsanya. Jadi kita sebagai rakyat harus jeli memilih para pemimpin pemerintahan NKRI ini karena kemakmuran bangsa ini diatur oleh pemerintahan yang sedang berkuasa pada rezimnya dan ke pemerintahan itu kita yang memilih.

Beberapa kasus kebenaran ayat diatas tadi sudah terjadi di negara tercinta kita ini. Contoh kasus yang masih melekat di benak kita semua adalah Tsunami ACEH 2004, kita tau sendiri bahwa bencana tersebut tidak akan terjadi apabila kita taat kepada Allah SWT bencana tersebut terjadi karena di Aceh sendiri pada Tahun tersebut terdapat pertikaian atau perang saudara dan banyak kemaksiatan disana sehingga Allah SWT pun menurunkan bencana yang Maha Dahsyat berupa Gempa yang berujung Tsunami yang menewaskan ratusan bahkan ribuan jiwa.

Dengan adanya bencana tersebut menandakan bahwa alert perang saudara harus dihentikan, itulah kekuasan Allah SWT yang bisa membinasakan suatu kaum dalam sekejap mata. Dengan musibah itu,, semua pihak akhirnya berpikir, menjadi iktibar. Adalah Pemerintahan Republik Indonesia yang telah mencanangkan beberapa kali perdamainan tapi gagal, ternyata dengan bencana ini perdamaian terjadi.

Kita selipkan Sebait Syair Puisi Aceh Ciptaan Rafly - Kande utk Mengenang kejadian Maha Dahsyat Gempa dan Tsunami Aceh/Sumatera 14 Tahun Silam, 26 Desember 2004.

Dengarlah kisah satu riwayat..
Kisah terjadi hay aceh di negeri aceh..
perang saudara, melanda..
Juga tsunami melanda..
Sedih dan pilu terasa menusuk jiwa..
Yatim piatu menangis tersedu2...
Rindu bertemu bersama orang tercinta..
Ayah dan ibu yang hilang entah dimana jasadnya..
Seluruh dunia bersedih, Aceh sengsara...


Barulah hikmah terasa kini terasa..
Damai menjelma berharap jauh bencana..
Hiduplah kasih dan sayang kita semua saudara..
Amin, amina rabbana, amin aminaa....


Aceh be aman, be aman. Bek le roh darah.. Roh darah.. Seuramo Mekah, hai Mekah beukong agama...


- RAFLY -
 


Kesimpulan yang dapat kita ambil dari penggalan surat Ar-Rad ayat 11 adalah sebagai berikut:
1.          Keadilan Allah Ta’ala, bahwa Dia tidak memberikan hukuman tanpa adanya dosa.
2.          Kemaksiatan merupakan penyebab dicabutnya nikmat sebagaimana ketaatan merupakan penyebab tetapnya nikmat.
3.          Musibah dan tercabutnya nikmat bisa saja terjadi karena tindakan kemaksiatan orang lain ketika orang yang mampu mengingkari malah membiarkan.

Sebagai penutup marilah kita berdoa dan saling memperbaiki diri agar kita dapat menghindari perbuatan maksiat atau perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan menjalankan segala perintah-Nya. Karena kehancuran dan kemakmuran kita atau bangsa ini berada ditangan kita sendiri.

Wallahu a'lam, wa shallallahu 'alaa sayyidina Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

DAFTAR PUSTAKA: