بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala Puji
bagi Allah SWT Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun
mampu menyelesaikan artikel ini
Masalah yang akan kita bahas pada kali ini
adalah masalah tentang bagaimana kita hubungan kita dengan sesama manusia atau
sosial masyarakat.
Tidak salah
jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat rinci mengatur
kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah SWT memberikan petunjuk
kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau pemeluk agama Islam yang
kafah atau sempurna.
Secara garis
besar ajaran Islam bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah
(hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan
manusia dengan manusia). Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang
walaupun hablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua bukan berarti
lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain karena
hablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh karena itu suatu
anggapan yang salah jika Islam dianggap sebagai agama transedental.
Baik Ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan
sosial masyarakat yang akan kita bahas ada pada surat Ar-Rad ayat 11
لَهُ
مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ
اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا
بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ
وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
Artinya:
Bagi manusia
ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum,
maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi
mereka selain Dia.
A. Menurut tafsir Jalalayn
(Baginya) manusia (ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran) para malaikat yang bertugas mengawasinya (di muka) di hadapannya
(dan di belakangnya) dari belakangnya (mereka menjaganya atas perintah Allah)
berdasarkan perintah Allah, dari gangguan jin dan makhluk-makhluk yang lainnya.
(Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum) artinya Dia tidak
mencabut dari mereka nikmat-Nya (sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri) dari keadaan yang baik dengan melakukan perbuatan durhaka.
(Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum) yakni menimpakan
azab (maka tak ada yang dapat menolaknya) dari siksaan-siksaan tersebut dan
pula dari hal-hal lainnya yang telah dipastikan-Nya (dan sekali-kali tak ada
bagi mereka) bagi orang-orang yang telah dikehendaki keburukan oleh Allah
(selain Dia) selain Allah sendiri (seorang penolong pun) yang dapat mencegah
datangnya azab Allah terhadap mereka. Huruf min di sini adalah zaidah.
B. Menurut Tafsir Quraish Shihab
Sesungguhnya Allahlah yang memelihara kalian. Setiap manusia memiliki
sejumlah malaikat yang bertugas--atas perintah Allah--menjaga dan
memeliharanya. Mereka ada yang menjaga dari arah depan dan ada juga yang
menjaga dari arah belakang. Demikian pula, Allah tidak akan mengubah nasib
suatu bangsa dari susah menjadi bahagia, atau dari kuat menjadi lemah, sebelum
mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka sesuai dengan keadaan
yang akan mereka jalani. Apabila Allah berkehendak memberikan bencana kepada
suatu bangsa, tidak akan ada seorang pun yang dapat melindungi mereka dari
bencana itu. Tidak ada seorang pun yang mengendalikan urusan kalian hingga
dapat menolak bencana itu.
C. Menurut Komentar Para Mufassir
(1) Menurut
As Samarqandiy, maksud firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah
Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri,“ adalah, bahwa Allah tidak akan merubah kenikmatan yang ada pada suatu
kaum yang Allah berikan kepada mereka, sampai mereka merubah, yakni merubah
diri mereka dengan meninggalkan sikap syukur[i].
Al Faqih Abul Laits rahimahullah berkata, “Dalam ayat tersebut terdapat
peringatan kepada semua manusia agar mengenali nikmat yang Allah berikan kepada
mereka dan mensyukurinya agar kenikmatan itu tidak hilang dari mereka.”
(2) Menurut Abu Bakr Al Jaza’iri, maksud firman
Allah, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah Allah tidak merubah
keadaan suatu kaum yang sebelumnya berada dalam afiyah (keselamatan) dan nikmat
kepada musibah dan azab, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri.
Ia juga berkata tentang maksud ayat di atas, “Allah Ta’ala memberitahukan
tentang salah satu sunnah (ketetapan) di antara sunnah-sunnah-Nya terhadap
makhluk-Nya yang terus berlaku, yaitu, bahwa Dia tidaklah menyingkirkan nikmat
yang Dia karuniakan kepada suatu kaum, baik berupa keselamatan, keamanan,
maupun kelapangan yang disebabkan keimanan dan amal saleh mereka sampai mereka
merubah keadaan mereka yang sebelumnya bersih kemudian dikotori oleh dosa dan
tenggelam di dalam maksiat akibat berpaling dari kitab Allah, meremehkan
syariat-Nya, menolak batasan-Nya, tenggelam dalam syahwat, dan menempuh
jalan-jalan kesesatan.”
(3) Menurut Al Baghawi, maksud firman Allah
Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka
merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah tidak
akan merubah keadaan suatu kaum yang berada dalam keselamatan dan kenikmatan,
sampai mereka merubah keadaan diri mereka dari keadaan yang baik tersebut lalu
berbuat maksiat kepada Tuhan mereka.
(4) Menurut Ibnu ‘Athiyyah, maksud firman
Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga
mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,“ adalah bahwa Allah
memberitahukan, Dia tidaklah merubah keadaan suatu kaum dengan menimpakan azab
dan musibah sampai terjadi tindak kemaksiatan dari mereka dan mereka merubah
ketaatan yang diperintahkan (dengan kemaksiatan).
Jadi Setalah kita melihat beberapa tafsir
diatas dapat dikatakan bahwa Ayat ini menerangkan tentang kedhaliman
manusia. Dalam ayat ini juga dijelaskan bahwa kebangkitan dan keruntuhan suatu
bangsa tergantung pada sikap dan tingkah laku mereka sendiri. Kedzaliman dalam
ayat ini sebagai tanda rusaknya kemakmuran suatu bangsa.
Memang benar adanya bahwasanya nasib suatu
kemakmuran bangsa tidak dapat dirubah kecuali kita sendiri sebagai rakyat dan
pemerintah bangsa kita bangsa Indonesia sebagai organisasi atau wadah yang
mengurus peraturan-peraturan, masalah kenegaraan, dan kesejahteraan rakyat dan
negara.
Dalam hal ini peran pemerintah sangat
vital karena pemerintahlah yang mengatur semua aspek kenegaraan, merekalah yang
bertaggung jawab atas kemakmuran bangsanya. Jadi kita sebagai rakyat harus jeli
memilih para pemimpin pemerintahan NKRI ini karena kemakmuran bangsa ini diatur
oleh pemerintahan yang sedang berkuasa pada rezimnya dan ke pemerintahan itu
kita yang memilih.
Beberapa kasus kebenaran ayat diatas tadi
sudah terjadi di negara tercinta kita ini. Contoh kasus yang masih melekat di
benak kita semua adalah Tsunami ACEH 2004, kita tau sendiri bahwa bencana tersebut
tidak akan terjadi apabila kita taat kepada Allah SWT bencana tersebut terjadi
karena di Aceh sendiri pada Tahun tersebut terdapat pertikaian atau perang
saudara dan banyak kemaksiatan disana sehingga Allah SWT pun menurunkan bencana
yang Maha Dahsyat berupa Gempa yang berujung Tsunami yang menewaskan ratusan
bahkan ribuan jiwa.
Dengan adanya bencana tersebut menandakan
bahwa alert perang saudara harus dihentikan, itulah kekuasan Allah SWT yang bisa
membinasakan suatu kaum dalam sekejap mata. Dengan musibah itu,, semua
pihak akhirnya berpikir, menjadi iktibar. Adalah Pemerintahan Republik
Indonesia yang telah mencanangkan beberapa kali perdamainan tapi gagal,
ternyata dengan bencana ini perdamaian terjadi.
Kita selipkan Sebait Syair Puisi Aceh
Ciptaan Rafly - Kande utk Mengenang kejadian Maha Dahsyat Gempa dan Tsunami
Aceh/Sumatera 14 Tahun Silam, 26 Desember 2004.
Dengarlah kisah satu riwayat..
Kisah terjadi hay aceh di negeri aceh..
perang saudara, melanda..
Juga tsunami melanda..
Sedih dan pilu terasa menusuk jiwa..
Yatim piatu menangis tersedu2...
Rindu bertemu bersama orang tercinta..
Ayah dan ibu yang hilang entah dimana
jasadnya..
Seluruh dunia bersedih, Aceh sengsara...
Barulah hikmah terasa kini terasa..
Damai menjelma berharap jauh bencana..
Hiduplah kasih dan sayang kita semua
saudara..
Amin, amina rabbana, amin aminaa....
Aceh be aman, be aman. Bek le roh darah..
Roh darah.. Seuramo Mekah, hai Mekah beukong agama...
- RAFLY -
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari
penggalan surat Ar-Rad ayat 11 adalah sebagai berikut:
1.
Keadilan Allah Ta’ala, bahwa Dia tidak memberikan
hukuman tanpa adanya dosa.
2.
Kemaksiatan merupakan penyebab dicabutnya nikmat
sebagaimana ketaatan merupakan penyebab tetapnya nikmat.
3.
Musibah dan tercabutnya nikmat bisa saja terjadi karena
tindakan kemaksiatan orang lain ketika orang yang mampu mengingkari malah
membiarkan.
Sebagai penutup marilah kita berdoa dan
saling memperbaiki diri agar kita dapat menghindari perbuatan maksiat atau
perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan menjalankan segala perintah-Nya. Karena
kehancuran dan kemakmuran kita atau bangsa ini berada ditangan kita sendiri.
Wallahu
a'lam, wa shallallahu 'alaa sayyidina Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa
sallam. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DAFTAR PUSTAKA:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar